Haris seorang Baduwi, dan istrinya Nafisa hidup berpindah-pindah tempat membawa tendanya yang tua. Dicarinya
tempat-tempat yang ditumbuhi beberapa kurma, rumputan untuk
untanya, atau yang mengandung sumber air betapapun kotornya.
Kehidupan semacam itu telah dijalani bertahun-tahun lamanya,
dan Haris jarang sekali melakukan sesuatu di luar
kebiasaannya. Ia biasa menjerat tikus untuk diambil
kulitnya, dan memintal tali dari serat pohon kurma untuk di
jual kepada kafilah yang lewat.
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 24 Januari 2010
Sabtu, 23 Januari 2010
Perumpamaan Tentang Orang-orang Rakus
Zaman dahulu ada seorang petani yang suka bekerja keras dan
berbudi baik, yang mempunyai beberapa anak laki-laki yang
malas dan rakus. Ketika sekarat, Si Tua mengatakan kepada
anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau
mau menggali tempat tertentu di kebun. Segera setelah ayah
itu meninggal, anak-anaknya bergegas kekebun, menggalinya
dan satu sudut ke sudut lain, dengan putus asa dan kehendak
yang semakin memuncak setiap kali mereka tidak menemukan
emas di tempat yang disebut ayahnya tadi.
berbudi baik, yang mempunyai beberapa anak laki-laki yang
malas dan rakus. Ketika sekarat, Si Tua mengatakan kepada
anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau
mau menggali tempat tertentu di kebun. Segera setelah ayah
itu meninggal, anak-anaknya bergegas kekebun, menggalinya
dan satu sudut ke sudut lain, dengan putus asa dan kehendak
yang semakin memuncak setiap kali mereka tidak menemukan
emas di tempat yang disebut ayahnya tadi.
Jumat, 22 Januari 2010
SIFAT MURID
Diceritakan bahwa Ibrahim Khawas, ketika ia masih muda, ingin mengikuti seorang guru. Iapun mencari seorang bijak,
dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.
Sang Bijak berkata. "Kau belum lagi siap."
Karena anak muda itu bersikeras juga, guru itu berkata,
"Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah
ke Mekkah. Kau ikut."
Murid itu teramat gembira.
"Karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang
harus menjadi pemimpin," kata Sang Guru "Kau pilih jadi apa?"
dan mohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya.
Sang Bijak berkata. "Kau belum lagi siap."
Karena anak muda itu bersikeras juga, guru itu berkata,
"Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah
ke Mekkah. Kau ikut."
Murid itu teramat gembira.
"Karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang
harus menjadi pemimpin," kata Sang Guru "Kau pilih jadi apa?"
Kamis, 21 Januari 2010
SUMPAH
Pada suatu hari, seorang yang kalut pikirannya bersumpah,
jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya
dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum
miskin.
Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya.
Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun
mencari akal.
Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan
itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu
sepuluh ribu uang perak.
jika semua kesulitannya terpecahkan ia akan menjual rumahnya
dan semua hasil penjualan itu akan diberikannya kepada kaum
miskin.
Akhirnya sampai juga saatnya, ia harus menunaikan sumpahnya.
Tetapi ia tidak ingin memberikan uang yang didapatnya. Iapun
mencari akal.
Ia menjual rumahnya seharga seperak saja. Namun penjualan
itu harus sekalian dengan kucingnya. Harga kucing itu
sepuluh ribu uang perak.
Langganan:
Postingan (Atom)